Minggu, 23 Juli 2006

Sekitar Proklamasi 2


Dipenghujung berahirnya kekuasaan Kolonial Belanda di Indonesia (d/h Hindia Belanda) dan akan tibanya penguasa Jepang, Hatta dan Sjahrir sedang diasingkan di pulau Banda. Tiba-tiba saja mereka dipindahkan ke Jawa. Soekarno, Hatta dan Sjahrir adalah tokoh perintis kemerdekaan Republik Indonesia sebelum perang. Sjahrir lebih dahulu mengenal Soekarno di Bandung sebelum berangkat sekolah ke Belanda. Dengan Hatta Sjahrir justru bersahabat terutama berkaitan dengan kepengurusan Perhimpunan Indonesia. Banyak yang bilang kalau Hatta adalah mentor Sjahrir. Itulah sebabnya rupanya Sjahrir bersedia disuruh pulang ke Indonesia lebih dahulu untuk memimpin PNI Baru. Selama zaman Jepang keduanya menetap di Sukabumi. Tidak jelas adanya pernyataan resmi pemerintah balatentara Jepang kalau mereka sudah tidak berstatus tahanan lagai. Tapi kenyataanya mereka adalah orang-orang bebas, meskipun tetap diawasi. Hatta dalam waktu dekat segera bersedia bekerja sama dengan pemerintah. demikian pula Soekarno yang telah kembali dari Sumatera. Tapi Sjahrir menolak bekerja sama dengan pemerintah. Selama tahun 1943-1945 kerjanya dibawah tanah. Yang dimaksud dibawah tanah bukan berarti melakukan perlawanan bersenjata, tapi melakukan kegiatan ilegal terselubung, seperti mendengar radio gelap (radio resmi disegel gelombangnya) kemudian juga berhubungan dengan sejumlah orang-orang beraliran kiri termasuk kaum Indo serta beberapa ex KNIL. Tapi dengan orang-orang anti fasis ini hubungan tidak lama karena tidak lama kemudian mereka semua masuk bui. Sjahir juga melakukan pembinaan generasi muda. Generasi muda ini banyak merupakan ex binaan Amir Sjarifudin yang tidak beberapa lama Jepang masuk, dia ditangkap dan dipenjara. Sebabnya karena ketahuan memiliki kegiatan untuk melawan fasis. Prinsip Sjahrir rupanya tidak berubah. Dia Sosialis, anti fasis, namun bercita-cita untuk kemerdekaan. Ketika Soekarno-Hatta akan berangkat ke Dalat, Sjahrir menemui Hatta dan menjelaskan, Seyoganya Republik Indonesia yang akan merdeka itu tidak memiliki hubungan dengan pemerintahan balatentara Jepang. Menurut Sjahrir, Hatta sependapat. Oleh karena itu karena menurut berita radio, Jepang sudah minta damai, konsep Sjahrir adalah segera Proklamasi dibacakan oleh Soekarno-Hatta tanpa perlu melibatkan PPKI (dianggap Sjahrir alat Jepang semata). Tapi ketika Hatta kembali dari perjalanan tanggal 14 Agustus 1945, Hatta memutuskan untuk membicarakannya lebih dahulu dengan Soekarno. Soekarno menolak Proklamasi karena belum pasti kalau Jepang sudah minta damai. Soekarno-Hatta memutuskan, akan mencari informasi pada tanggal 15 Agustus 1945 kekantor Gunsekanbu. Rupanya tanggal 15 Agustus 1945, merupakan hari berahirnya kekuasaan Jepang di Indonesia, karena Tenno Haika sudah menyatakan menerima deklarasi Postdam. Soekarno-Hatta tidak berhasi mengorek berita dari seorang Jepangpun. Karena bersama keduanya juga ikut Soebardjo, mereka pergi menemui Maeda. Ada sedikit informasi kalau di Jepang ada kebijaksanaan baru. Ketika Soekarno-Hatta kembali dan Sjahrir menemuinya, sekali lagi Soekarno menolak membacakan Proklamasi atas nama bangsa Indonesia. Kali ini pertimbangannya menurut Hatta, semua itu harus lebih dahulu dibicarakan dalam sidang PPKI yang semua anggotanya kini sudah ada di Jakarta. Bukankah PPKI merupakan representasi daerah ?Sjahrir kecewa dan khawatir kalau telinga Kem Pei Thai sudah mendengar apa yang dipersiapkannya kalau saja Soekarno-Hatta bersedia membacakan Proklamasi yang telah dipersiapkannya. Apa rencana Sjahrir ?. Pertama mengadakan pengumpulan massa dan massa akan bedemonstrasi, kalau perlu bentrok dengan militer Jepang. Maka akan terjadi perebutan kekuasaan secara Revolusioner. Yang kedua, keadaan harus dibuat sedemikian rupa sehingga pemerintahan diambil alih secara mulus. Artinya administrasi tidak boleh terganggu. Tidak boleh ada chaos. Para pegawai Jepanng yang orang Indonesia harus diajak berpihak pada Republik Indonesia dan harus mampu menjalankan sistim pemerintahan dengan baik. Hanya para pemimpinnya yang Jepang yang ditangkap. Tentu saja tentara Jepang akan dilucuti lebih dahulu yang nantinya akan diserahkan pada pihak sekutu. Tapi semua itu menjadi sirna karena Soekarno-Hatta bersikukuh untuk selekasnya mengadakan sidang PPKI. Direncanakan tanggal 16 Agustis 1945 pagi hari. Sementara para para pemuda yang terdiri dari beberapa aliran, bersatu dan menganggap bahwa kemerdekaan sudah tidak mungkin ditunda lagi. Mereka setelah berapat malam tanggal 15 Agustus 1945 disebuah tempat dibelakang laboratorium bakteriologi jalan Pegangsaan Jakarta, memutuskan untuk mendatangi Soekarno. Ketika utusan mereka malam itu bersitegang dengan Soekarno-hatta, semuanya berahir dengan hal yang tidak dapat ditawar-tawar lagi. Dasar darah muda, menjelang subuh, dengan dukungan sejumlah anggota militer dari Pasukan Pembela Tanah Air (PETA), Soekarno-Hatta diculik ke Rengasdengklok. Sjahrir mendengar semua itu dari kadernya, Soebadio Sastrosatomo. Dia kecewa karena menganggap bukan begitu seharusnya Revolusi diwujudkan. Sjahrir berkata : "Bagaimana memproklamasikan kemerdekaan atas dasar paksaan" (Soebadio Sastrosatomo, Perjuangan revolusi). Sjahrir menolak untuk terlibat lagi dan menganggap kelompok ketiga sudah ikut bermain. Menjelang pagi rombongan tiba di Rengasdengklok dan Soekarno-Hatta Fatmawati dan Guntur diantar Shodanco Singgih dan Soekarni untuk dipertemukan dengan pimpinan kompi PETA Rengasdengklok Chudancho Soebeno.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar